Kamis, 24 April 2014

Mengajari Anak Bekerja Sama


Kerjasama adalah keterampilan penting untuk kesuksesan hidup yang membutuhkan komunikasi, kasih sayang, dan rasa hormat. Bahkan seorang anal usia tiga sampai empat tahun mulai bisa bekerja sama. Pada usia lima atau enam tahun, mereka mulai memahami nilai sebenarnya dari kerjasama dalam menyelesaikan tugas.
Berikut adalah cara yang dapat anda lakukan untuk mengembangkan kerjasama pada anak – anak dan membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang produktif :

1.     Mendengarkan dengan penuh perhatian
Buka hati anda, mata, dan telinga sehingga anda benar – benar dapat mendengarkan bagaimana anak – anak berpikir dan merasakan tentang situasi tertentu. Satu – satunya cara anda dapat belajar bagaimana cara mengajarkan anak sesuatu yang baru adalah mencari dan mendengarkan apa yang mereka tahu dan bagaimana mereka merasakan dan berempati. Ini akan menunjukkan rasa hormat kepada mereka, dan mereka merasa didengar dan diperhatikan.
2.     Memberi contoh
Biarkan anak – anak melihat anda berbagi keterampilan, barang, waktu anda, atau cinta anda. Hal ini juga bagus untuk menjelaskan kepada anak – anak mengapa anda berbagi, dan bekerjasama dengan orang lain.
3.     Bermain game
Bermain game dengan anak – anak bisa mengajarkan cara bekerjasama jika anda memilih permainan yang tepat seperti lompat tali, membangun puzzle, bermain tenis ganda, atau perlombaan – perlombaan yang membutuhkan lebih dari satu pemain. Pastikan untuk memainkan beberapa game nyata dan menunjukkan sportivitas yang baik. Dengan cara ini mereka belajar bahwa hidup aka nada saat – saat ketika mereka menang dan saat – saat ketika mereka kalah.
4.     Mendorong kerja sama tim
Mengatur situasi yang membutuhkan kerja sama tim, apakah itu adalah tim olahraga , tugas tim, atau perencanaan tim. Situasi tersebut harus mencakup kegiatan yang membutuhkan komunikasi, rasa hormat dan kerjasama yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
5.     Membalikkan peran
Berikan anak – anak kesempatan memimpin. Biarkan mereka merencanakan kegiatan untuk satu hari, makan malam selama seminggu, atau liburan seluruh keluarga, tergantung pada usia dan pemajaman tentang anggaran dan pedoman. Anak – anak tidak pernah terlalu muda untuk belajar memimpin diri mereka sendiri dan bertanggung jawab.
6.     Berikan pujian
Beri tanggapan pada anak yang kooperatif dan puji mereka untuk itu. Anak – anak lebih menyukai orang dewasa yang menyenangkan dan jujur. Mereka akan lebih cenderung untuk mengulangi perilaku positif jika mereka mendapat pujian dan akan berhenti melakukan perilaku negatif karena meraka akan mendapat hukuman. Itu salah satu cara mereka untuk berperilaku positif. Ketika anda melihat seorang anak yang kooperatif dengan temannya, maka katakana padanya “kamu bekerja sangat baik”
7.     Solusi kolaboratif
Biarkan anak – anak menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tetap dibawah bimbingan dan pengawasan anda. Cobalah memberikan kesempatan pada anak – anak untuk menyelesaikan masalah mereka sebelum anda turun tangan. Jika anda harus melakukan intervensi, lakukanlah dengan mengajukan pertnyaan daripada memberikan jawaban.
8.     Biarkan anak – anak memilih
Biarkan anak – anak membuat pilihan yang sesuai dengan usianya. Anak usia dua tahun dapat memilih antara dua hal, anak sepuluh tahun dapat membantu merencanakan tugas – tugas dalam rumah tangga dan remaja sudah dapat memilihn pakaian mereka sendiri. Membiarkan anak – anak untuk membuat pilihan mereka sendiri dapat mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab.
9.     Kesempatan berkumpul
Pastikan anak – anak memiliki banyak kesempatan untuk bermain dan berkumpul. Bergabung dengan teman – teman sebaya mereka akan membantu mengajari kerjasama karena mereka melihat diri mereka sama dengan anak – anak lain. Tapi ingat untuk memberikan pujian dan tidak campur tangan kecuali jika diperlukan.

Sumber  : persembahan special untuk bunda by Indonesia Genius

Persiapan Masuk Sekolah Dasar



1. PERSIAPAN FISIK
Usia. Usia 6 tahun umumnya menjadi standar bagi anak untuk masuk ke jenjang SD. Hal ini disebabkan karena anak dianggap sudah lebih dapat bertanggung jawab dan mandiri untuk menerima tugas dan tuntutan dari sekolah. Berdasarkan pengalaman, anak yang berusia 5 tahun 4 bulan bisa lolos seleksi masuk SD yang diadakan sekolah. Namun dalam perjalanannya di kelas, ia tergolong lamban jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Pengalaman yang lain, anak berusia 5 tahun 8 bulan relatif membutuhkan setidaknya waktu dua bulan untuk bisa beradaptasi dan merasa nyaman dengan teman-teman sebayanya. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa faktor usia menentukan kematangan anak untuk memasuki jenjang SD.
Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam rangka memberikan stimulasi pada anak, baik berupa stimulasi melatih motorik kasar dan juga motorik halus. Stimulasi ini diharapkan dapat lebih mempersiapkan anak dari segi fisik / motorik ketika masuk SD.
Motorik kasar. Biarkan anak melepaskan energinya dengan berlari, melompat-lompat di lapangan yang luas. Bermain bola, melompat-lompat, dan berenang adalah aktivitas yang dapat menstimulasi motorik kasar anak lebih berkembang.
Motorik halus. Sediakan kertas kosong untuk anak berlatih menulis atau sekedar mencoret-coret di rumah atau pun ketika anak sedang santai. Meremas-remas permainan lilin, dapat menguatkan syaraf-syaraf motorik halusnya lebih berkembang. Meronce, yaitu memasukkan tali pada lubang kancing, atau pun mengikat tali sepatu sendiri merupakan aktivitas yang menarik bagi anak sekaligus dapat mempersiapkan anak lebih siap untuk belajar di jenjang sekolah dasar. 
2. PERSIAPAN MENTAL INTELEKTUAL
Kemampuan membaca dan menulis dan berhitung. Biasakan anak untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di koran, majalah, atau pun papan reklame di jalan. Ketika jalan-jalan ke mall, dapat dijadikan ajang bagi anak untuk berlatih membaca produk-produk yang tersedia. Untuk menulis, siapkan selalu kertas kosong atau kertas bergambar, pensil atau pensil berwarna ketika di rumah atau bepergian. Jika ada kesempatan, biarkan anak untuk menulis, menggambar, atau pun mewarnai. Untuk berhitung, dapat menggunakan barang-barang sederhana di sekitar rumah, misalnya jumlah buah, piring, tanaman, sendok yang ada di rumah. Intinya, anak diajak berhitung secara fun dengan benda yang ada di sekitar anak, agar lebih konkrit bagi mereka.
Waktu belajar. Biasakan anak untuk memiliki waktu belajar khusus, misalnya selepas sholat Maghrib. Ciptakanlah situasi belajar yang kondusif, yaitu dengan mematikan televisi, melakukan aktivitas membaca, bertanya atau pun berdiskusi bersama, dimana hal tersebut akan menjadi kebiasaan positif dan terbangun sejak dini. Durasi aktivitas ini dapat disepakati bersama, minimal 30 menit, sehingga dapat melatih konsentrasi anak untuk tetap berada dalam satu aktivitas.
3. KEMANDIRIAN
Kemampuan self help; permasalahan umum yang muncul untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD adalah kemandirian yang minim. Kondisi ini dialami, baik untuk sekolah negeri atau pun swasta, golongan sosial menengah ke bawah atau pun menengah atas. Oleh karena itu perlu dibangun kebiasaan-kebiasaan yang mengantarkan anak untuk dapat mandiri dan membantu dirinya sendiri. Aktivitas yang perlu dikuasai diantaranya adalah makan dan minum tanpa dibantu atau disuapkan, mengganti pakaian dan menggantungnya sesampainya di rumah. Ketika akan pergi, latihlah anak untuk memakai sepatu dan membawa tas sendiri. Karena banyak pengalaman, jika pergi ke sekolah, yang membawa tas adalah orang tua atau pengasuh, bukan anak itu sendiri. Ajarkan juga anak untuk meminta izin ke kamar mandi serta membuka dan memakai celana sendiri. Di samping itu, beri kepercayaan anak untuk mandi sendiri dan sikat gigi setelah selesai makan. Kebiasaan merapikan dan menyiapkan buku atau mainan adalah kebiasaan yang baik. 
4. TANGGUNG JAWAB
Menyelesaikan tugas. Ajarkan anak untuk menyelesaikan tugas yang telah dipilihnya. Misalnya jika sudah memilih aktivitas menggambar, selesaikan aktivitas tersebut sampai rampung sehingga ada hasilnya. Kalau pun tidak selesai pada satu waktu, dapat dilanjutkan pada kesempatan lain. Selain itu anak dapat dilatih untuk menjaga kelengkapan mainannya atau pun bertanggung jawab untuk menjaga koleksi buku atau permainannya tidak hilang.
5. ASPEK SOSIAL
Bersosialisasi dengan orang lain. Ajaklah anak untuk terlibat dalam acara-acara yang terdapat banyak orang. Misalnya ketika orang tua hadir pada acara arisan atau acara keluarga. Ketika tamu datang ke rumah, mintalah anak untuk bersalaman dan menyapa tamu. Ketika bertemu dengan tetangga, sapalah mereka. Mengajak teman-teman anak ke rumah pun dapat menjadi alternatif kegiatan. Kegiatan-kegiatan ini diperlukan karena wilayah sosialisasi anak di SD menjadi lebih luas daripada sebelumnya.

Sumber : Ulfa Mahmudah, M.Psi. 
(http://stimulasidini.blogspot.com)