1. PERSIAPAN FISIK
Usia. Usia 6 tahun umumnya menjadi standar bagi anak untuk masuk ke jenjang SD. Hal
ini disebabkan karena anak dianggap sudah lebih dapat bertanggung jawab
dan mandiri untuk menerima tugas dan tuntutan dari sekolah. Berdasarkan
pengalaman, anak yang berusia 5 tahun 4 bulan bisa lolos seleksi masuk
SD yang diadakan sekolah. Namun dalam perjalanannya di kelas, ia
tergolong lamban jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya.
Pengalaman yang lain, anak berusia 5 tahun 8 bulan relatif membutuhkan setidaknya
waktu dua bulan untuk bisa beradaptasi dan merasa nyaman dengan
teman-teman sebayanya. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan
bahwa faktor usia menentukan kematangan anak untuk memasuki jenjang SD.
Berikut
ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam rangka
memberikan stimulasi pada anak, baik berupa stimulasi melatih motorik
kasar dan juga motorik halus. Stimulasi ini diharapkan dapat lebih
mempersiapkan anak dari segi fisik / motorik ketika masuk SD.
Motorik kasar. Biarkan
anak melepaskan energinya dengan berlari, melompat-lompat di lapangan
yang luas. Bermain bola, melompat-lompat, dan berenang adalah aktivitas
yang dapat menstimulasi motorik kasar anak lebih berkembang.
Motorik halus. Sediakan
kertas kosong untuk anak berlatih menulis atau sekedar mencoret-coret
di rumah atau pun ketika anak sedang santai. Meremas-remas permainan
lilin, dapat menguatkan syaraf-syaraf motorik halusnya lebih berkembang.
Meronce, yaitu memasukkan tali pada lubang kancing, atau pun mengikat
tali sepatu sendiri merupakan aktivitas yang menarik bagi anak sekaligus
dapat mempersiapkan anak lebih siap untuk belajar di jenjang sekolah
dasar.
2. PERSIAPAN MENTAL INTELEKTUAL
Kemampuan membaca dan menulis dan berhitung.
Biasakan anak untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di koran, majalah,
atau pun papan reklame di jalan. Ketika jalan-jalan ke mall, dapat
dijadikan ajang bagi anak untuk berlatih membaca produk-produk yang
tersedia. Untuk menulis, siapkan selalu kertas kosong atau kertas
bergambar, pensil atau pensil berwarna ketika di rumah atau bepergian.
Jika ada kesempatan, biarkan anak untuk menulis, menggambar, atau pun
mewarnai. Untuk berhitung, dapat menggunakan barang-barang sederhana di
sekitar rumah, misalnya jumlah buah, piring, tanaman, sendok yang ada di
rumah. Intinya, anak diajak berhitung secara fun dengan benda yang ada di sekitar anak, agar lebih konkrit bagi mereka.
Waktu belajar. Biasakan
anak untuk memiliki waktu belajar khusus, misalnya selepas sholat
Maghrib. Ciptakanlah situasi belajar yang kondusif, yaitu dengan
mematikan televisi, melakukan aktivitas membaca, bertanya atau pun
berdiskusi bersama, dimana hal tersebut akan menjadi kebiasaan positif
dan terbangun sejak dini. Durasi aktivitas ini dapat disepakati bersama,
minimal 30 menit, sehingga dapat melatih konsentrasi anak untuk tetap
berada dalam satu aktivitas.
3. KEMANDIRIAN
Kemampuan self help;
permasalahan umum yang muncul untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD adalah
kemandirian yang minim. Kondisi ini dialami, baik untuk sekolah negeri
atau pun swasta, golongan sosial menengah ke bawah atau pun menengah
atas. Oleh karena itu perlu dibangun kebiasaan-kebiasaan yang
mengantarkan anak untuk dapat mandiri dan membantu dirinya sendiri.
Aktivitas yang perlu dikuasai diantaranya adalah makan dan minum tanpa
dibantu atau disuapkan, mengganti pakaian dan menggantungnya sesampainya
di rumah. Ketika akan pergi, latihlah anak untuk memakai sepatu dan
membawa tas sendiri. Karena banyak pengalaman, jika pergi ke sekolah,
yang membawa tas adalah orang tua atau pengasuh, bukan anak itu sendiri.
Ajarkan juga anak untuk meminta izin ke kamar mandi serta membuka dan
memakai celana sendiri. Di samping itu, beri kepercayaan anak untuk
mandi sendiri dan sikat gigi setelah selesai makan. Kebiasaan merapikan
dan menyiapkan buku atau mainan adalah kebiasaan yang baik.
4. TANGGUNG JAWAB
Menyelesaikan tugas. Ajarkan
anak untuk menyelesaikan tugas yang telah dipilihnya. Misalnya jika
sudah memilih aktivitas menggambar, selesaikan aktivitas tersebut sampai
rampung sehingga ada hasilnya. Kalau pun tidak selesai pada satu waktu,
dapat dilanjutkan pada kesempatan lain. Selain itu anak dapat dilatih
untuk menjaga kelengkapan mainannya atau pun bertanggung jawab untuk
menjaga koleksi buku atau permainannya tidak hilang.
5. ASPEK SOSIAL
Bersosialisasi dengan orang lain. Ajaklah anak untuk terlibat dalam acara-acara yang terdapat banyak orang. Misalnya ketika orang tua hadir pada acara arisan atau acara keluarga. Ketika
tamu datang ke rumah, mintalah anak untuk bersalaman dan menyapa tamu.
Ketika bertemu dengan tetangga, sapalah mereka. Mengajak teman-teman
anak ke rumah pun dapat menjadi alternatif kegiatan. Kegiatan-kegiatan
ini diperlukan karena wilayah sosialisasi anak di SD menjadi lebih luas
daripada sebelumnya.Sumber : Ulfa Mahmudah, M.Psi.
(http://stimulasidini.blogspot.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar